Minggu, 16 Oktober 2011

BENTUK DAN MAKNA

Suatu bentuk terkecil dalam bahasa adalah fonem dan yang terbesar adalah karangan. Di antara suatu bentuk terkecil dan terbesar itu terdapat deretan bentuk morfem, kata, kalimat, dan alinea.

Satuan bentuk bahasa itu baru diakui eksistensinya jika mempunyai makna atau dapat mempengaruhi makna. Maksud penyataan dapat mempengaruhi makna dalam hal ini adalah kehadirannya dapat mengubah makna atau menciptakan makna baru.
Hubungan antara bentuk dan makna dapat diibaratkan sebagai dua sisi mata uang : satu sama lainya saling melengkapi. Bentuk yang tidak mempunyai makna atau tidak dapat mempengaruhi makna tidak akan mendapat tempat dalam tatanam satuan bentuk bahasa.

1. Fonem

Fonem adalah bunyi terkecil yang dapat membedakan arti, sedangkan huruf aalah lambing bunyi atau lambing fenom. Yang membedakan arti kata jahit dan jahat adalah bunyi /i/ yang dilambangkan dengan huruf I dan bunyi /a/ yang dilambangkan dengan huruf a. Bunyi /i/ dan /a/ disebut fenom /i/ dan fenom /a/.

Apakah fenom sama denagn huruf ? Tentukan saja tidak. Frnom adalah bunyi dari huruf adalah lambing dari bunyi. Jumlah huruf ada 26 , jumlah fenom lebih dari 26. Di samaping bunyi ke-26 huruf dalam abjad (fenom /a/ sampai ke fenom /z/ juga ada fenom /kh/, /ng/, /ny/ dan /sy/. Jadi, ada fenom yang dilambangkan lebih dari satu fenom.

2. Morfem

Morfem adalah suatu bentuk terkecil yang dapat membedakan makna dan atau mempunyai makna. Wujud morfem dapat berupa imbuhan, klitika, partikel, dan kata dasar (misalnya –an, -lah, -kah, -bawa).

Contoh :

Morfen –an, -di, me-, ter, -lah, jika digabungkan dengan kata makan, dapat membentuk kata makanan, dimakan, memakan, termakan, makanlah yang mempunyai makna baru yang berbeda dengan makna kata makan.

Menurut bentuk dan maknanya, morfem dapat dibedakan atas dua macam.

1) Morfem bebas, yaitu morfem yang dapat berdiri sendiri dari segi makna tanpa harus dihubungkan dengan morfem yang lain. Semua kata dasar tergolong sebagai morfem bebas.

2) Morfem terikat, yaitu morfem yang tidak dapat berdiri sendiri dari segi makna. Semua imbuhan (awalan, sisipan, akhiran, serta kombinasi awalan dan akhiran) tergolong sebagai morfem terikat.


3. Kata

Kata adalah satuan bentuk terkecil (dari kalimat) yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai makna) Kesatuan yang terbentuk dari gabungan huruf atau gabungan morfem atau gabungan huruf dengan morfem.
Dari segi bentuknya kata dapat dibedakan atas dua macam, yaitu (1) kata yang bermorfem tunggal dan (2) kata yang bermorfem banyak. Kata yang bermofer tunggal disebut juga kata dasar atau kata yang tidak berimbuhan. Kata dasar pada umumnya berpotensi untuk dikembangkan menjadi kata turunan.

Contoh : Ruamh (kata dasar) menjadi Perumahan (kata turunan).

Secara tradisional pembagian kelas/jenis kata di dalam bahasa – bahasa yang terbesar didunia, termasuk bahasa Indonesia, umumnya terdiri atas sepuluh jenis kata, yaitu :

1. Kata benda (nomina)
2. Kata kerja (verba)
3. Kata sifat (adjektiva)
4. Kata ganti (pronominal)
5. Kata keterangan (adverbia)
6. Kata bilangan (numeralia)
7. Kata sambung (konjungsi)
8. Kata sandang (artikel)
9. Kata seru (interjeksi)
10. Kata depan (preposisi)

Sementara itu, ilmu bahasa termasuk morfologi, terus berkembang. Pembagian kelas kata bahasa Indonesia yang paling mutakir adalah yang diajukan oleh Tim Depdikbud RI yang terdapat di dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (edisi perdana 1988). Di dalam buku itu, Moeliono, dkk. Mengelompokan kata ke dalam lima jenis, yaitu :

1. Verba (Kata Kerja)
2. Adjektiva (Kata Sifat)
3. Adverbia (Kata Keterangan)
4. Rumpun Kata Benda, yang beranggotakan
a. Nomina (Kata Benda/Kata Nama)
b. Pronomina (Kata Ganti)
c. Numeralia (Kata Bilangan)
5. Rumpun Kata Tugas, yang beranggotakan
a. Preposisi (Kata Depan)
b. Konjungsi (Kata Sambung)
c. Interjeksi (Kata Seru)
d. Artikel (Kata Sambung)
e. Partikel


3.1 Kata Kerja (Verba)

Kata kerja atau verba adalah kata yang menyatakan perbuatan atau tindakan, proses, dan keadaan yang bukan merupakan sifat. Kata kerja pada umumnya berfungsi sebagai predikat dalam kalimat. Bentuk kata kerja ada dua macam : (1) Kata kerja asal, yaitu kata kerja yang dapat berdiri sendiri di dalam kalimat tanpa bantuan afiks : misalnya tulis, pergi, bicara, lihat. (2) Kata kerja turunan, yaitu kata kerja yang mempunyai afiks, misalnya : menulis, berpergian, berbicara, melihat. Ada pula bentuk kata kerja atau verba yang lain, di antaranya :

a) Verba reduplikasi atau verba berulang dengan atau tanpa pengimbuhan ; misalnya makan – makan, batuk – batuk, berlari – lari, tembak – menembak.
b) Verbal majemuk, yaitu verba yang berbentuk melalui proses penggabungan kata, namun hasil penggabungan ini bukan idiom ; misalnya terjun payung, temu wicara, siap tempur, tatap muka.
c) Verba berpreposisi, yaitu verba intransitive yang selalu diikuti oleh preposisi tertentu ; misalnya tahu akan, berdiskusi tentang, cinta pada, sejalan dengan, terdiri dari, menyesal atas, tergolong sebagai.


3.2 Kata Sifat (Adjektifa)

Kata sifat atau adjektifa adalah kata yang menerangkan sifat, keadaan, watak, tabiat orang/binatang/suatu benda. Umumnya berfungsi sebagai predikat, objek, dan penjelasan subjek. Berdasarkan bentuknya, kata sifat dibedakan atas dua macam, yaitu (1) kata sifat berbentuk tunggal, dan (2) kata sifat berimbuhan. Cirri kata sifat berbentuk tunggal adalah sebagai berikut :

(1) Dapat diberikan keterangan perbanding seperti lebih, kurang, dan paling ; misalnya lebih baik, kurang indah, paling pandai.
(2) Dapat diberi keterangan penguat seperti sangat, amat, benar, sekali, dan terlalu ; misalnya sangat senang, amat luas, mahal benar, sedikit sekali, terlalu berat.
(3) Dapat diingkari dengan kata ingkar tidak ; misalnya tidak benar dan tidak sehat.

Kata sifat berbentuk tunggal dapat dipilah dan dihimpun ke dalam lima kelompok, inilah nama kelompok yang dimaksud berserta contohnya:

a) Keadaan/situasi ; misalnya aman, kacau, tenang, gawat
b) Warna ; misalnya ungu, hijau, biru, merah.
c) Ukuran ; misalnya berat, ringan, tinggi,besar.
d) Perasaan/Sikap ; misalnya malu, sedih, bahagia, heran.
e) Cerapan/Indra ; misalnya harum, manis, terang, jelas.


3.3 Kata Keterangan (Adverbia)

Kata keterangan atau adverbial adalah kata yang member keterangan pada verba, adjektiva, nomina predikatif, atau kalimat. Dalam kalimat saya ingin segera melukis, kata segera adalah adverbial yang menerangkan verba melukis.

Adverbia sebagai katagori harsu dibedakan dari keterangan sebagai fungsi kalimat. Sebagai contoh, dalam kalimat saya pergi besok, kata besok berkatagori nomina (bukan adverbial), tetapi fungsinya adalah keterangan waktu. Beda halnya dengan kamera digital itu sangat canggih, kata sangat berfungsi sebagai keterangan dan kebetulan juga berkatagori adverbial.

Menurut Alwi dkk. (1998 : 366), keterangan di dalam kalimat ada Sembilan macam, semua keterangan itu diisi oleh beraneka bentuk adverbial seperti tampak dalam contoh di bawah ini.

Contoh :

(1) Yang menyatakan waktu : sekarang, besok, beberapa hari lagi, pada masa lalu, sejak tahun 1945;
(2) Yang menyatakan tempat dan arah : di sana, ke kampus, dari bogor, diatas meja, di selatan khatulistiwa ;
(3) Yang menyatakan tujuan : demi keluarga, untuk mencerdaskan bangsa, bagi tanah air dan Negara;
(4) Yang menyatakan cara : sekuat – kuatnya, lama – lama, baik – baik, kecil – kecilan, dengan terang – terangan, dengan perhatian penuh ;
(5) Yang menyatakan penyertaan : dengan karyawan, bersama rakyat, tanpa guru ;
(6) Yang menyatakan alat : dengan kereta api, dengan sepeda, dengan gunting, dengan kapak merah ;
(7) Yang menyatakan kemiripan : laksana puteri, bagaikan karang, seperti petinju ;
(8) Yang menyatakan penyebaban : karena inflasi, karena krisis keuangan, karena cinta ;
(9) Yang menyatakan kesalingan : satu sama lain ;


3.4 Rumpun Kata Benda (Nomina)

Kata benda adalah kata yang mengacu kepada sesuatu benda (konkret maupun abstrak). Ambilah contoh benda yang kita lihat sehari – hari, misalnya benda konkret buku, kunci, kendaraan, pohon, pesawat televisi, nasi ; dan benda abstrak yang kita rasakan, misalnya agama, pengetahuan, kehendak, peraturan, pkiran, nafsu ; maka kita akan mengakui semua itu adalah nama dari suatu benda sesuatu hal. Oleh karna itu, kata benda disebut juga dengan istilah kata nama (nomina).

Para pakar penyusun buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia menempatkan nomina, pronomina, dan numeralia ke dalam satu bab karena sesungguhnyalah ketiga jenis kata itu sama – sama merujuk kepada benda. Karena itu, sangatlah beralasan membentuk rumpun kata benda yang beranggotakan (1) kata benda (nomina), (2) kata ganti (pronominal), (3) kata bilangan (numeralia). Salah satu alasan kuat yang mendukung dimasukkannya pronominal ke dalam rumpun kata benda adalah batasan pronominal persona, yaitu pronominal dipakai untuk mengacu kepada orang. Batasan pronominal persona itu menunjukkan bahwa pronomina memang merujuk pada benda sehingga pronominal sebenarnya kata benda juga.

Di samping pronominal persona, ada pronominal penanya (apa, siapa, mana, kapan, dst.) yang di pakai untuk menanyakan benda (orang atau barang). Selain itu juga ada pronominal penyapa Bu, Pak, Dok, Prof, serta pronomina penunjuk umum ini, itu, anu yang juga mengacu kepada benda. Semua itu semakin mempertegas keangotaan pronominal dalam rumpun nomina atau kata benda.

Hal yang sama juga tampak jika kita memperhatikan eksistensi kata bilangan (numeralia). Seperti yang telah dikutip diatas, batasan numeralia menyuratkan fungsi numeralia untuk menghitung benda. Lebih dari itu, sebenarnya angka – angka, mulai dari nol bahkan minus sampai plus sekian, tidak lain adalah (sesuatu) benda juga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar